Masalahnya Bukan Jalan, tapi Kita Belum Cukup Lama Berjalan di Satu Jalan. — robbipribadi.id
Seseorang berjalan sendirian di jalan panjang menuju horizon yang jauh
Refleksi Bagian 3 dari 4

Masalahnya Bukan Jalan, tapi Kita Belum Cukup Lama Berjalan di Satu Jalan.

Kalau kamu sudah sampai di titik ini,
mungkin mulai terlihat polanya.

Bukan karena tidak ada jalan keluar.
Bukan karena peluangnya tidak ada.

Tapi kita belum pernah benar-benar berjalan cukup jauh di satu jalan.

Di tulisan sebelumnya kita sampai pada satu titik:
masalahnya bukan kekurangan pilihan, tapi kita belum memilih.

Sekarang coba lihat satu langkah lebih dalam.

Kalau sudah memilih satu — kenapa tetap terasa berat?
Kenapa tetap ragu? Kenapa rasanya seperti tidak yakin akan sampai?

Saya dulu juga sering ada di titik ini.

Sudah memilih. Sudah mulai jalan.
Tapi di tengah jalan, rasanya seperti ingin balik arah lagi atau ganti haluan.

Bukan karena tidak bisa.
Tapi karena tidak sepenuhnya yakin — jadi tergoda pada pertanyaan ‘ini jalan yang benar atau bukan?’.

Bayangkan kamu ingin pergi ke kota yang belum pernah dikunjungi.
Tujuan sudah dipilih, tapi kamu tidak tahu kondisi jalannya.
Tidak tahu medan di depan. Tidak tahu apa yang akan ditemui.

Sedikit macet, mulai ragu. Sedikit salah belok, mulai panik.

Sekarang bayangkan kondisi yang sama — tujuan sama, jalan sama —
tapi kali ini kamu pegang peta.

Kamu tahu di beberapa titik jalannya rusak,
di beberapa bagian akan macet,
dan ada bagian yang memang harus memutar.

Perjalanannya tetap tidak mudah. Tapi ada satu hal yang berubah.

Kamu tidak terlalu mudah goyah.

Bukan karena jalannya lebih enak.
Tapi karena kamu mengerti apa yang sedang dijalani.

Di titik ini saya mulai sadar sesuatu.

Memilih jalan saja ternyata belum cukup.

Kita juga perlu melihat dengan lebih jernih: jalan ini seperti apa,
kita ada di posisi mana, dan apa yang sebenarnya sedang dihadapi.

Saya pernah menuliskan ini lebih lengkap di sini:
Memilih Arena Tempat Kita Bertarung

Tapi kalau disederhanakan — bukan hanya soal ke mana kita pergi.
Tapi apakah kita benar-benar memahami arena tempat kita berjalan.

Karena tanpa itu, setiap rintangan akan terasa seperti ancaman.

Ada dua hal yang sering kita campur aduk.

Masalah arah, dan rintangan di perjalanan.

Kadang kita merasa: “ini berat, berarti salah jalan.”
Padahal belum tentu.

Bisa jadi ini memang bagian dari jalannya.

Kalau kamu belum memilih arah dengan jelas,
memang wajar untuk berhenti dan melihat lagi.

Tapi kalau kamu sudah memilih, dan yang ditemui adalah capek,
lambat, ditolak — mungkin itu bukan tanda salah jalan dan kemudian pindah haluan lagi.

Bahkan, bisa jadi itu tanda untuk terus berjalan.

Walaupun pelan.

Karena kalau arahnya benar, pelan pun tetap mendekat.

Ada sesuatu yang baru saya sadari belakangan ini.

Yang membuat kita mudah ragu bukan hanya karena jalannya berat.
Tapi karena kita belum cukup mengenal jalannya.

Belum cukup dalam. Belum cukup lama.

Baru mulai belajar, sudah ingin hasil.
Baru kena satu dua rintangan, sudah ingin memastikan ini benar atau tidak.

Padahal bisa jadi kita hanya belum sampai ke bagian
di mana hasil itu mulai terlihat.

Untuk sampai ke satu tempat, kita tidak hanya butuh arah.
Kita perlu belajar jalannya, menguatkan diri untuk menjalaninya,
dan tetap melangkah meskipun belum nyaman.

Ini bukan berarti tidak boleh berhenti atau tidak boleh evaluasi.

Tapi jangan sampai setiap rasa tidak enak
langsung dianggap sebagai tanda untuk menyerah.

Karena bisa jadi itu hanya bagian dari perjalanan
yang memang harus dilewati.

Sekarang coba tanya ke diri sendiri.

Yang sedang kamu hadapi hari ini — benar-benar karena salah arah?

Atau kamu hanya belum cukup lama berjalan di jalan yang sudah kamu pilih?

Karena jawabannya akan menentukan satu hal penting:

Kamu perlu mencari jalan baru — atau kamu hanya perlu melangkah satu langkah lagi.